BREAKING NEWS

10/recent/ticker-posts

Right Button

test banner

Tarif Rp5.000, Jadwal Padat: KA Lembah Anai Padang–Kayutanam Jawaban Mobilitas Sumbar


PADANG
 | Deru lokomotif yang berhenti mulus di Stasiun Padang, Kamis pagi (1/1/2026), menjadi penanda babak baru transportasi publik di Sumatera Barat. Untuk pertama kalinya, KA Lembah Anai resmi melayani rute Padang–Kayutanam pulang-pergi (PP). Hari perdana operasional itu langsung dibalas antusiasme luar biasa dari masyarakat. Kursi nyaris ludes, penumpang memadati peron, dan suasana stasiun tampak lebih hidup dari biasanya.

Sejak pagi, calon penumpang dari berbagai latar belakang—pelajar, pekerja, hingga keluarga yang hendak berwisata—terlihat antusias menunggu keberangkatan. Banyak di antara mereka mengaku penasaran sekaligus lega, karena kini tersedia moda transportasi murah, nyaman, dan bebas macet yang langsung menghubungkan Padang dengan wilayah timur Sumbar.



PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat mencatat, hingga pukul 17.00 WIB di hari pertama, jumlah penumpang KA Lembah Anai relasi Padang–Kayutanam (PP) mencapai 982 orang, atau sekitar 85 persen dari total 1.152 tempat duduk yang disediakan. Angka ini diperkirakan masih akan bergerak, mengingat penjualan tiket dilakukan secara real time hingga menjelang keberangkatan.

Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, menyebut tingginya okupansi di hari perdana menjadi sinyal kuat bahwa kehadiran relasi baru ini memang dibutuhkan masyarakat.



“Pengembangan relasi KA Lembah Anai hingga Stasiun Padang merupakan langkah strategis KAI untuk menghadirkan transportasi publik yang lebih mudah diakses, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan mobilitas masyarakat Sumatera Barat,” ujarnya.

Relasi baru ini melayani enam perjalanan setiap hari untuk masing-masing arah. Dari Kayutanam menuju Padang, kereta berangkat sejak pagi hingga sore, sementara perjalanan sebaliknya dari Padang ke Kayutanam tersedia hingga malam hari. Jadwal yang teratur tersebut memberikan fleksibilitas bagi masyarakat untuk mengatur aktivitas harian, mulai dari bekerja, bersekolah, hingga berwisata.

Tak hanya soal jadwal, tarif yang sangat terjangkau menjadi daya tarik utama. Untuk relasi Padang–Duku, penumpang cukup merogoh kocek Rp3.000, sedangkan untuk Padang–Kayutanam hanya Rp5.000. Harga ini dinilai sangat kompetitif dibandingkan moda transportasi darat lainnya.

Di dalam rangkaian kereta, suasana terasa akrab. Penumpang tampak menikmati perjalanan sambil berbincang, memotret pemandangan, hingga sekadar bersantai. Bagi sebagian warga, perjalanan dengan KA Lembah Anai bukan hanya soal berpindah tempat, tetapi juga menghadirkan pengalaman baru yang lebih tenang dan aman.

Sebagai bentuk apresiasi atas sambutan hangat masyarakat, KAI Divre II Sumatera Barat membagikan souvenir khusus kepada penumpang KA Lembah Anai relasi Padang–Kayutanam di hari perdana. Pemberian dilakukan langsung oleh Kepala KAI Divre II Sumatera Barat, Muh. Tri Setyawan, bersama jajaran manajemen di Stasiun Padang. Aksi sederhana ini disambut antusias penumpang dan menambah kesan positif di awal pengoperasian.

Menurut KAI, kehadiran KA Lembah Anai tidak hanya memperluas akses transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendorong pergeseran masyarakat ke transportasi massal yang ramah lingkungan. Kereta api dinilai mampu mengurangi kepadatan lalu lintas, menekan emisi, serta meningkatkan keselamatan perjalanan.

“Kami mengajak masyarakat Sumatera Barat memanfaatkan KA Lembah Anai sebagai moda transportasi yang bebas macet, ramah lingkungan, dan nyaman. KAI berkomitmen terus meningkatkan kualitas layanan, baik dari sisi ketepatan waktu, kenyamanan, maupun keselamatan,” tutup Reza.

Hari pertama operasional KA Lembah Anai Padang–Kayutanam menjadi bukti bahwa ketika transportasi publik disediakan dengan akses mudah, harga terjangkau, dan pelayanan yang baik, masyarakat akan datang dengan sendirinya. Relasi baru ini pun diharapkan menjadi tulang punggung mobilitas baru di Sumatera Barat—bukan sekadar kereta, melainkan simbol kemajuan transportasi daerah.


TIM RMO 

Posting Komentar

0 Komentar